CIREBON — Akulturasi budaya Cirebon menjadi tema utama dalam International Conference bertajuk “From Port to People: Cultural Acculturation and Heritage Preservation in Cirebon and Malaka” yang berlangsung di Auditorium Lantai 5 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Kamis (21/5/2026).
Konferensi internasional tersebut menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi sejarah budaya dari Indonesia serta Malaysia. Selain itu, kegiatan ini memperkuat kajian tentang hubungan historis antara Cirebon dan Malaka sebagai wilayah pesisir yang memiliki keterkaitan budaya, perdagangan, dan penyebaran Islam.
Akulturasi budaya Cirebon juga menjadi perhatian penting dalam diskusi ilmiah yang membahas pelestarian warisan budaya pesisir di tengah perkembangan modernisasi. Oleh karena itu, forum ini menjadi ruang akademik untuk memperkuat literasi sejarah dan identitas budaya masyarakat pesisir.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Sementara itu, konferensi dipandu oleh moderator Farihin Niskala, S.Hum., alumni Jurusan Sejarah Peradaban Islam.
Konferensi Perkuat Kajian Budaya Pesisir
Konferensi internasional tersebut menghadirkan empat narasumber utama. Mereka terdiri atas Dr. Zuharaidah Hassan dari Fakulti Sains Sosial Universitas Islam Malaka, Dr. Zaenal Masduki, M.Ag., M.A., Dr. Tendi, M.Hum., dan Dr. Dede Burhanudin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Dalam sambutannya, panitia menegaskan bahwa konferensi ini bertujuan memperkuat kolaborasi akademik lintas negara. Selain itu, kegiatan ini mendorong penelitian mengenai sejarah maritim dan warisan budaya pesisir Nusantara.
Para peserta berasal dari kalangan dosen, mahasiswa, peneliti, dan pemerhati budaya. Dengan demikian, diskusi berlangsung dinamis dan menghasilkan berbagai perspektif mengenai hubungan sejarah Cirebon dan Malaka.
Dr. Zuharaidah Hassan Bahas Kejayaan Malaka
Pemateri pertama, Dr. Zuharaidah Hassan, memaparkan sejarah perkembangan Malaka sebagai kerajaan maritim besar di Asia Tenggara. Ia menjelaskan bahwa Malaka telah eksis sejak abad ke-15. Bahkan, beberapa temuan terbaru menyebutkan keberadaan Malaka sejak abad ke-13 Masehi.
Namun demikian, temuan tersebut masih memunculkan perdebatan di kalangan akademisi. Oleh karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memperkuat validitas sejarah tersebut.
Dr. Zuharaidah menegaskan bahwa Cirebon dan Malaka memiliki kesamaan sebagai kota pelabuhan internasional. Kedua wilayah tersebut berkembang pesat melalui aktivitas perdagangan maritim dan interaksi budaya lintas bangsa.
Menurutnya, masa kejayaan Malaka berlangsung sebelum Portugis menguasai wilayah tersebut pada tahun 1511 Masehi. Pada masa itu, lebih dari 84 bahasa digunakan di Pelabuhan Malaka.
Selain itu, pelabuhan tersebut menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, kain kapas, dan berbagai komoditas lainnya. Dengan demikian, Malaka menjadi titik penting jalur perdagangan internasional di kawasan Asia Tenggara.
Dr. Zuharaidah juga menjelaskan posisi Hang Tuah dalam identitas masyarakat Malaka. Ia menyebut Hang Tuah sebagai simbol patriotisme, integritas, kesetiaan, dan kebijaksanaan masyarakat Melayu.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa tradisi Islam di Malaka memiliki banyak kesamaan dengan tradisi Islam di Cirebon. Tradisi perayaan Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi masih dijalankan secara kuat oleh masyarakat Malaka hingga saat ini.
Menurutnya, hubungan budaya tersebut menunjukkan adanya konektivitas sejarah yang erat antara wilayah pesisir Nusantara dan Semenanjung Melayu. Oleh karena itu, pelestarian budaya pesisir perlu dilakukan secara kolaboratif antarnegara.
Pelabuhan Karangsong Jadi Potret Kemaritiman Cirebon
Pemateri berikutnya, Dr. Zaenal Masduki, membahas Pelabuhan Karangsong dan Gebang sebagai miniatur pelabuhan Cirebon masa lalu. Ia menjelaskan bahwa Pelabuhan Karangsong tidak hanya menjadi tempat aktivitas nelayan, tetapi juga pusat produksi kapal besar.
Menurutnya, kapal-kapal tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi dan proses pembuatannya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Selain itu, para nelayan melakukan pelayaran hingga melintasi batas wilayah dalam waktu yang cukup lama.
Dr. Zaenal menyampaikan bahwa hasil ekonomi para nelayan cukup besar. Berdasarkan data lapangan, seorang anak buah kapal dapat memperoleh penghasilan hingga puluhan juta rupiah dalam satu kali pelayaran.
Dengan demikian, ia menegaskan bahwa nelayan bukan identik dengan kemiskinan. Sebaliknya, masyarakat nelayan memiliki potensi ekonomi yang kuat dan mandiri.
Ia juga menjelaskan bahwa istri para nelayan memiliki aktivitas ekonomi produktif, seperti membatik. Oleh karena itu, kehidupan masyarakat pesisir menunjukkan pola ekonomi kreatif berbasis keluarga.
Dalam paparannya, Dr. Zaenal membandingkan Pelabuhan Karangsong dengan Pelabuhan Gebang. Ia menyebut kapal di Gebang memiliki ukuran lebih kecil dibanding Karangsong.
Meski demikian, rata-rata penghasilan nelayan Gebang tetap tinggi. Bahkan, menurutnya, pendapatan nelayan dapat mencapai sekitar Rp3 juta per hari.
Selanjutnya, Dr. Zaenal mencontohkan keberhasilan Prof. Rohmin Dahuri yang berasal dari keluarga nelayan Gebang. Ia menyebut keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat pesisir memiliki daya juang dan visi pendidikan yang kuat.
Jejak Historis Hubungan Malaka dan Cirebon
Pemateri ketiga, Dr. Tendi, M.Hum., membawakan materi bertajuk “Melacak Jejak Hubungan Malaka dan Cirebon”. Dalam paparannya, ia menjelaskan perubahan geopolitik Asia Tenggara setelah Portugis menaklukkan Malaka pada tahun 1511.
Menurutnya, peristiwa tersebut mengubah struktur perdagangan regional secara signifikan. Malaka tidak lagi berdiri sebagai pusat tunggal perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara.
Oleh karena itu, jalur pelayaran kemudian mengalami reorientasi ke wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Cirebon. Dalam dinamika tersebut, bahasa Melayu hadir sebagai pengikat komunikasi antardaerah yang menjaga konektivitas perdagangan dan diplomasi maritim.
Dr. Tendi menjelaskan bahwa interaksi maritim tidak hanya memindahkan komoditas perdagangan. Akan tetapi, aktivitas tersebut juga memicu mobilitas manusia melalui jalur diplomatik Melayu-Jawa.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa arus perdagangan regional membawa gelombang diaspora Melayu ke Cirebon. Dengan demikian, Cirebon berkembang menjadi kota pelabuhan kosmopolitan yang mempertemukan berbagai etnis dan identitas maritim global.
Menurut Dr. Tendi, hubungan historis antara Malaka dan Cirebon dapat ditelusuri melalui berbagai arsip kolonial VOC abad ke-17 hingga ke-18. Arsip tersebut mencakup dagregister, missiven, notulen, dan scheepsjournalen.
Dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa Malaka dan Cirebon berada dalam satu sistem logistik maritim yang terintegrasi. Selain itu, jalur pelayaran utama terbentang dari Semarang, Cirebon, Batavia, Johor, hingga Malaka.
Ia menjelaskan bahwa komoditas perdagangan pada masa itu sangat beragam. Barang yang diperdagangkan meliputi beras, rotan, kayu, tekstil, garam, damar, lada, lilin, candu, hingga budak.
Dalam jaringan Selat Malaka–Jawa tersebut, Cirebon memiliki posisi yang sangat strategis. Menurutnya, Cirebon tidak hanya berfungsi sebagai pelabuhan transit, tetapi juga menjadi penghubung pedalaman Sunda dengan jalur perdagangan internasional.
Selain itu, Cirebon berperan sebagai pusat transit diaspora, simpul distribusi utama, serta pelabuhan feeder yang menopang perdagangan global. Dengan demikian, posisi Cirebon dalam sejarah maritim Asia Tenggara menjadi sangat penting.
Secara historiografis, Dr. Tendi menilai hubungan antara Cirebon dan Malaka masih sering terabaikan dalam narasi sejarah arus utama. Hal tersebut terjadi karena sejarah nasional cenderung disusun berdasarkan batas wilayah modern dan berfokus pada pusat kekuasaan besar.
Sementara itu, banyak sumber arsip terkait hubungan maritim tersebar di berbagai negara. Oleh karena itu, rekonstruksi sejarah maritim membutuhkan pendekatan lintas wilayah dan lintas sumber.
Ia juga menegaskan bahwa Islamisasi menjadi faktor penting yang menghubungkan Cirebon dengan dunia maritim Melayu. Mobilitas ulama dan jaringan keagamaan memperkuat posisi Cirebon dalam jaringan perdagangan serta budaya kawasan.
Melalui perspektif tersebut, Dr. Tendi menilai peran Cirebon perlu ditempatkan kembali dalam peta sejarah maritim Asia Tenggara. Selain itu, pendekatan ini mampu mendekonstruksi pandangan lama mengenai konsep “pusat dan pinggiran” dalam sejarah kawasan maritim.
Manuskrip Jadi Bukti Relasi Cirebon dan Malaka
Pemateri berikutnya, Dr. Dede Burhanudin, membahas hubungan Cirebon dan Malaka melalui manuskrip serta sastra pesisir. Ia memaparkan sejumlah naskah yang mencatat hubungan kedua wilayah tersebut.
Beberapa manuskrip yang disebutkan antara lain Purwaka Caruban Nagari, naskah primbon, serta berbagai babad Kanoman dan Kasepuhan. Selain itu, manuskrip tersebut memperlihatkan hubungan perdagangan, genealogis, dan penyebaran Islam antara Cirebon dan Malaka.
Dr. Dede menjelaskan bahwa Cirebon memiliki kekayaan sastra pesisir yang sangat beragam. Salah satunya adalah sastra macapat yang berkembang dalam budaya masyarakat Cirebon.
Ia menyebut beberapa pupuh dalam sastra macapat Cirebon, seperti Dangdanggula, Asmarandhana, dan Sinom. Selain itu, masyarakat pesisir Cirebon juga mengenal sastra pantun dan parikan.
Menurutnya, karakter masyarakat pesisir Cirebon cenderung egaliter dan memiliki intonasi bicara yang keras. Hal tersebut dipengaruhi kondisi lingkungan pesisir yang penuh suara ombak dan angin laut.
Lebih lanjut, Dr. Dede menegaskan bahwa hubungan Cirebon dan Malaka tidak hanya berkaitan dengan perdagangan. Akan tetapi, hubungan tersebut juga menyangkut proses Islamisasi dan hubungan genealogis.
Ia mengutip Pupuh Asmarandhana yang menyebut Malaka sebagai pusat hubungan spiritual dan sejarah masyarakat Cirebon. Dalam kutipan tersebut, Syekh Datuk Kahfi disebut sebagai tokoh penting dalam sejarah leluhur Cirebon.
Menurut Dr. Dede, Syekh Datuk Kahfi tidak hanya dikenal sebagai penyebar Islam. Namun, ia juga memiliki posisi penting dalam konstruksi identitas sejarah masyarakat Cirebon.
Akhirnya, Dr. Dede menutup paparannya dengan pantun khas masyarakat pesisir Cirebon. Penutupan tersebut mendapat apresiasi dari peserta konferensi yang hadir.
Komitmen Pelestarian Warisan Budaya
Konferensi internasional tersebut menghasilkan berbagai gagasan mengenai pelestarian warisan budaya pesisir. Para narasumber menegaskan pentingnya penguatan riset sejarah dan budaya berbasis manuskrip serta tradisi lokal.
Selain itu, forum ini mendorong generasi muda untuk memahami identitas budaya pesisir secara lebih mendalam. Dengan demikian, nilai-nilai sejarah dapat terus diwariskan kepada masyarakat luas.
Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kerja sama akademik antara Indonesia dan Malaysia. Oleh karena itu, kolaborasi penelitian budaya dan sejarah diharapkan terus berkembang pada masa mendatang.

Melalui konferensi ini, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan kajian sejarah, budaya, dan peradaban Islam berbasis kearifan lokal.
Selain memperkuat jaringan akademik internasional, kegiatan tersebut juga menjadi ruang strategis untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya pesisir Nusantara. Dengan demikian, identitas sejarah Cirebon dan Malaka tetap terpelihara di tengah arus globalisasi.