Berita & Informasi

Hari Kedua Visiting Lecturer SPI UIN Siber Cirebon Bahas Transformasi Kurikulum Humaniora dan Pemanfaatan AI dalam Kajian Sejarah

Hari kedua Visiting Lecturer SPI UIN Siber Cirebon bersama UIN Sunan Kalijaga membahas transformasi kurikulum humaniora, pemanfaatan AI, dan kompetensi mahasiswa sejarah.

Cirebon – Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUA), UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melanjutkan rangkaian program Visiting Lecturer bersama Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI), Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa (6/10/2026). Memasuki hari kedua, kegiatan ini menghadirkan diskusi akademik melalui format podcast yang membahas transformasi kurikulum humaniora, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta penguatan kompetensi mahasiswa sejarah di era digital.

Kegiatan podcast berlangsung di Gedung Siber UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dengan dipandu oleh Ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Aah Syafaah, M.Ag. Diskusi menghadirkan dua akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yaitu Abdul Aziz, M.Hum., dan Dr. Sujadi, M.A. Keduanya berbagi perspektif mengenai tantangan pendidikan sejarah serta strategi pengembangan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kurikulum Humaniora Perlu Menyesuaikan Perkembangan Zaman

Dalam diskusi tersebut, para narasumber menekankan pentingnya evaluasi dan pembaruan kurikulum secara berkala. Perubahan kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi, serta dinamika dunia kerja menuntut perguruan tinggi untuk terus meninjau relevansi materi dan metode pembelajaran. Oleh karena itu, evaluasi kurikulum, termasuk setiap semester, dapat menjadi salah satu upaya untuk memastikan proses pendidikan tetap sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan perkembangan keilmuan.

Selain itu, pendidikan sejarah perlu bergerak melampaui pendekatan yang hanya menekankan transfer pengetahuan. Para narasumber mendorong penerapan outcome-based education yang berorientasi pada capaian pembelajaran dan kompetensi lulusan. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori serta peristiwa sejarah, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata.

Dengan demikian, pembelajaran di Program Studi SPI perlu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenali potensi diri, mengembangkan keterampilan profesional, serta merancang arah karier. Kompetensi tersebut penting agar lulusan memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja tanpa kehilangan landasan akademik dan identitas keilmuannya.

Pemanfaatan AI Harus Diimbangi Kemampuan Berpikir Kritis

Isu kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi salah satu fokus utama dalam diskusi. Para narasumber mengulas potensi AI untuk membantu efisiensi penelitian, mengembangkan gagasan konseptual, serta mendukung produksi konten visual. Teknologi ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan baru dalam pembelajaran dan penyajian pengetahuan sejarah.

Namun, pemanfaatan AI tetap membutuhkan sikap kritis dan tanggung jawab akademik. Di tengah maraknya disinformasi pada era post-truth, mahasiswa harus mampu memeriksa keakuratan informasi, menelusuri kredibilitas sumber, dan membandingkan data melalui triangulasi. Langkah tersebut penting untuk memastikan bahwa informasi yang digunakan dalam penelitian memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Para narasumber juga menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan proses heuristik, yaitu penelusuran dan pengumpulan sumber sejarah. Penelitian sejarah tetap membutuhkan kritik sumber, interpretasi, serta penelitian lapangan sesuai kebutuhan kajian. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu menempatkan AI sebagai perangkat pendukung, bukan sebagai pengganti proses berpikir dan kerja ilmiah.

Penguatan Literasi dan Tradisi Intelektual Mahasiswa

Selain membahas peluang teknologi, diskusi tersebut menyoroti tantangan dalam menjaga tradisi intelektual mahasiswa. Penggunaan AI secara pasif dan berlebihan berpotensi mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam membaca, menelaah sumber, serta membangun argumentasi secara mandiri. Karena itu, perguruan tinggi perlu memperkuat budaya literasi dan kedisiplinan akademik.

Sementara itu, proses pembelajaran di kelas perlu mendorong interaksi yang lebih aktif antara dosen dan mahasiswa. Pengaturan penggunaan gawai selama perkuliahan, misalnya, dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga konsentrasi dan kualitas diskusi. Dengan pendekatan tersebut, teknologi tetap dapat dimanfaatkan secara produktif tanpa mengurangi kedalaman proses belajar.

Penguatan literasi juga menjadi bagian penting dalam pendidikan sejarah. Mahasiswa perlu membiasakan diri membaca sumber primer dan sekunder, membandingkan perspektif, serta menyusun kesimpulan berdasarkan bukti. Kemampuan ini menjadi fondasi untuk menghasilkan penelitian sejarah yang kritis, objektif, dan memiliki kontribusi akademik.

Mendorong Pembelajaran Berbasis Produk Nyata

Lebih lanjut, para narasumber mendorong penerapan product-based education atau pendidikan berbasis produk. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghasilkan karya nyata sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur melalui penguasaan teori, tetapi juga melalui kemampuan menghasilkan luaran yang bermanfaat.

Bentuk luaran tersebut dapat berupa artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal, pengelolaan dan pameran arsip, konten edukasi sejarah, maupun produk pengetahuan lainnya. Kegiatan tersebut dapat membantu mahasiswa mengembangkan keterampilan penelitian, komunikasi, pengelolaan informasi, dan kreativitas.

Selain itu, pembelajaran berbasis produk dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mempelajari sejarah sebagai rekaman masa lalu, tetapi juga mengolah pengetahuan sejarah menjadi sumber edukasi dan sarana pelestarian kebudayaan. Oleh karena itu, pendekatan ini berpotensi meningkatkan relevansi pendidikan sejarah dengan kebutuhan masyarakat.

Memperkuat Kolaborasi Akademik Antarperguruan Tinggi

Pelaksanaan hari kedua Visiting Lecturer ini menjadi ruang pertukaran gagasan antara akademisi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diskusi tersebut memperluas perspektif mengenai pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kompetensi mahasiswa dalam bidang sejarah dan humaniora.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Sejarah Peradaban Islam FUA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus mendorong terciptanya lingkungan akademik yang terbuka, kolaboratif, dan responsif terhadap perubahan zaman. Kolaborasi dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan demikian, rangkaian Visiting Lecturer ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan selama kegiatan berlangsung. Kolaborasi tersebut diharapkan berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan yang menghasilkan inovasi pembelajaran, penelitian kolaboratif, publikasi ilmiah, serta kegiatan akademik yang memberikan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat.

Topik Terkait:
#UINSSC #UIN SIBER #SPI #SPI UIN SSC
Keterkaitan SDGs:
SDGs 4 - Quality Education
Bagikan Artikel:
Info Prodi Assistant
👋 Halo! Saya asisten info Program Studi. Silakan tanya seputar:
• Informasi pendaftaran
• Kurikulum & mata kuliah
• Profil dosen
• Kegiatan & agenda
• Kontak prodi
Aksesibilitas