Penutupan PPL di Keraton Kasepuhan Cirebon
Cirebon, 1 Oktober 2026 — Enam Mahasiswa SPI UINSSC mengikuti penutupan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Keraton Kasepuhan Cirebon. Kegiatan ini menandai berakhirnya praktik lapangan sekaligus memperkuat hubungan akademik dengan lingkungan pelestarian sejarah dan budaya. Mahasiswa SPI UINSSC juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengenal warisan sejarah dan tradisi Kesultanan Cirebon.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh dosen pembimbing lapangan, Dr. Zaenal Masduqi, M.Ag., serta pamong Keraton Kasepuhan, Raden Nanung. Ratu Kasepuhan Cirebon, Ratu Alexandra Wuryaningrat, turut menjadi perwakilan pihak keraton dalam kegiatan tersebut. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk mengakhiri rangkaian PPL dan mengapresiasi proses pembelajaran mahasiswa selama menjalani praktik.
Penyerahan Cendera Mata sebagai Bentuk Apresiasi
Dalam rangkaian penutupan, Dr. Zaenal Masduqi, M.Ag. menyerahkan cendera mata kepada Ratu Alexandra Wuryaningrat. Penyerahan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kesempatan dan dukungan pihak Keraton Kasepuhan terhadap pelaksanaan PPL mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini mencerminkan pentingnya hubungan baik antara perguruan tinggi dan lembaga pelestarian budaya.

Pemberian cendera mata juga menjadi bagian dari penutup kegiatan yang berlangsung pada 1 Oktober 2026. Melalui momen tersebut, kedua pihak memiliki kesempatan untuk memperkuat komunikasi dan hubungan kelembagaan. Oleh karena itu, kegiatan PPL tidak hanya mendukung pembelajaran akademik, tetapi juga membuka ruang kerja sama dalam bidang sejarah dan kebudayaan.
PPL Memperkuat Pemahaman Sejarah dan Budaya
Keraton Kasepuhan Cirebon memiliki keterkaitan erat dengan kajian sejarah peradaban Islam, khususnya perkembangan Islam dan kebudayaan di Cirebon. Lingkungan keraton memberikan konteks pembelajaran mengenai tradisi, peninggalan sejarah, serta praktik pelestarian warisan budaya. Dengan demikian, pengalaman lapangan dapat membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan melalui lingkungan sejarah yang nyata.

Selanjutnya, pengalaman PPL mendorong mahasiswa mengenali peran lembaga budaya dalam menjaga warisan sejarah. Mahasiswa juga dapat memperluas wawasan mengenai pentingnya dokumentasi, pelestarian benda bersejarah, dan penyampaian informasi kepada masyarakat. Lebih lanjut, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk kegiatan penelitian maupun pengembangan kajian sejarah pada masa mendatang.
Sinergi Perguruan Tinggi dan Keraton
Pelaksanaan PPL menunjukkan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa. Dosen pembimbing lapangan berperan mengarahkan kegiatan agar sejalan dengan tujuan akademik. Sementara itu, pamong dan pihak keraton membantu mahasiswa mengenal lingkungan pelestarian sejarah serta kebudayaan lokal.
Akhirnya, penutupan PPL di Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam. Enam mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan pengalaman tersebut untuk memperkuat pemahaman sejarah dan meningkatkan keterampilan akademik. Melalui kegiatan ini, FUA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon turut mendukung pembelajaran yang menghubungkan teori, praktik, dan pelestarian warisan budaya.